Laman

Jumat, 23 Desember 2011

Dampingi Aku Selamanya

Disebuah rumah sederhana yang asri tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan

Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga.Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya disebuah mesjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang tadi dikenakannya kemesjid tadi. Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri ,“Kenapa Bu? Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pak”

“Ya udah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami. Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.“Bagaimanapun usahaku untuk berterimakasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya. 

Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang, kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”. Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama….

Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya. Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam..“Terimakasih”.

“Tidak, Ibu yang terimakasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu. “Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tau semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus. 

Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri “Bapak kok bicara begitu? Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah luar biasa. Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat kita hadapi bersama.”

Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi .Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya. Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap sang penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tahyat terakhir. Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa. “Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada’

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat kemesjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal, ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri. Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya,

Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak. Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.

“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapa tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia berakhir, Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”

Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata “Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendiri. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan. Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya…..
Read More

Selasa, 20 Desember 2011

KETIKA JILBAB TERASA BERAT


Aku persembahkan untaian mawar yg tak akan engkau lupa selamanya,
ingatlah selalu..dan pahamilah sebaik-baiknya…
Berjilbab sebelum menghadapi hisab.
Wanita tak berjilbab bagai rumah tak berpagar.
Kerudung lambang ketakwaan dan Islam….
kerudung bukti rasa malu dan kesusilaan…
Kerudung menjaga kewibawaan dan kehormatan…
Kerudung mahkota terindah utk kecantikaanmu dan bukti terbesar
atas kesopanan serta kesempurnaan dirimu.

Hai wanita Mukmin yg mulia..lindungilah tubuhmu dari sorot tajam mata-mata keranjang…bentengi dgn perisai kesusilaan utk melumpuhkan panah-panah tajam,.

Bukankah satu hal konyol sekaligus memperhatikan bila kita melihat wanita tua menambal garis-garis keriput di wajahnya dgn kosmetik dan mengenakan pakaian laki-laki seperti celana panjang dan t-shirt.??.

Betapa Ruginya wanita yg tak berjilbab…ia sesat dan lalai..ia jual Surga dgn harga murah utk memberi neraka jahim dgn harga mahal, Apakah diantara wujud iman kepada Allah itu mendahulukan maksiat kepada-NYA ketimbang menaati-NYA.??,Duh betapa ruginya para wanita, Kala mereka rela melepaskan sesuatu yg lebih baik dan mengambil yg tidak berharga,yakni ketika mereka memilih bertabarruj mengantikan busana jilbab, Sepadan kah budaya buka-bukaan,bugil-bugilan ketelanjangan bila dibandingkan dgn budaya malu,kesusilaan dan kewibawaan?

Modal menikmati masa muda bagaimana yg engkau inginkan, Sementara saat keluar ke jalan tanpa berhijab hakikatnya engkau melakukan dosa setiap orang memandangmu? Hitung setiap hari, berapa jumlah dosa yg engkau pikul akibat tabarrujmu saat beribu-beribu pasangan mata laki-laki menatapmu.

Berpikirlah wahai wanita , betapa sering engkau melakukan dosa besar ini dan mempertontonkan aurat! Betapa banyak kehormatan yg telah engkau rampas?? Banyak sdh Fitnah yg engkau bangkitkan?? Berapa banyak mata tajam yg telah menelan dagingmu dan menikmati kecantikaanmu?? Dan berapa banyak jiwa kotor yg ingin menjalin hubungan dgnmu.??

Totallah jumlah dosa-dosa ini setiap kali engkau keluar dan pergi sepanjang hayatmu, Niscaya engkau mendapatinya sebagai dosa yg sangat berat, Membuatmu tertatih-tatih memikulnya, Dan engkau tak kan sanggup membawanya di hari kiamat.

Beginikah cara menikmati masa muda wahai wanita malang, Tanpa batas dan aturan syariat?? Sesungguhnya jika ia mau merenungkan barang sebentar hal tersebut, pasti wajahnya merah merona karena malu dan ia akan menutup kecantikan dan perhiasannya dari mata-mata buas yg tak tau malu.

Tidak berarti ketika memakai jilbab engkau hidup introvert. Menjauh dari pergaulan masyarakat .Sama sekali tdk, bahkan sebaliknya, Islam menghendakimu menjadi pribadi yg supel, mudah akrab dan ramah dgn orang lain: enerjik dgn tetap menjaga rasa malu: rendah hati tanpa tidak rendah diri: memiliki harga diri tanpa di bumbui kesombongan: pemalu:tidak suka menyakiti: jujur:tidak banyak bicara:banyak berbuat: hati-hati: berbakti lagi suka menyambung silahturahmi, tahu terima kasih lagi penyabar: siapa melihatmu, siapa berkawan dgn mu ia mencintaimu, dan seorang wanita yg murah senyum serta berpandangan luas.

Renungkanlah sendiri betapa berat beban dosa-dosa ini, dan utk selanjutnya. .ingat kembali misimu dlm kehidupan ini,untuk apa engkau diciptakan?? Engkau akan menemukan jawaban yg benar-benar kontras dgn realita yg engkau jalani. Maka segeralah melakukan taubat tulus kepada Allah sebelum perjalanan ke negeri akhirat keburu lepas.

Semoga bermanfa’at.
Read More

Rabu, 14 Desember 2011

SEMUA KITA BERHARGA



      Di suatu pagi yang cerah dengan udara yang sejuk di sebuah pedesaan, seorang ibu sedang bercengkerama dengan ketujuh anakya, kegembiraan dan kebahagiaan serta kebersamaan terbangun dalam keluarga itu, selang beberapa saat kemudian sang anak pertama melontarkan kalimat-kalimat bijak kepada ibunya,
Ibu…, aku memang tidak terlalu pintar dibanding teman-temanku disekolah, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat BODOH untukku
Ibu…, aku memang tidak terlalu cantik / tampan dibanding anak dari teman-taman ibu, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat JELEK untukku 
Ibu …, aku memang tidak penurut seperti anak-anak yang lain, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat NAKAL untukku
Ibu…, aku memang sering khilaf melanggar aturan Agama karena ketidakberdayaanku, tapi tolong jangan sampai engkau keluarkan kalimat DURHAKA untukku
Ibu…, sampai hari aku belum mampu membalas segala jasamu dan belum mampu membahagiakan sebagaimana keinginanmu, tapi tolong jangan sampai keluarkan kalimat GAK TAHU DIRI untukku
Ibu…, kalau sampai hari ini aku masih sering lupa mendoakanmu karena kesibukanku, tolong jangan hentikan air mata do’amu untukku dan jangan pula sepatah kata laknatpun keluar dari bibirmu, sang ibu kemudian meneteskan air matanya, apa arti air mata ibu ini ?
      Alkisah Beberapa tahun kemudian…., seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. ”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. 
       Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak dan adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Semarang.””
      Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.
       Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”
Apa jawab sang ibu..??? 
…...Dengan tersenyum ibu itu menjawab :
       ”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya T SASANGANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil keringatnya dia bertani”… Pemuda itu terbengong….
        Sahabat………, sejenak kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kondisi adik-adik kita hari ini ? bagaimana pula kakak-kakak kita ? lalu bagaimana pula dengan ibu dan Ayah kita…………., apa yang telah kita berikan untuk mereka, adakah setetes air mata do’a untuk keselamatan dunia dan akhiratnya? Hari ini ? kemarin ? atau esok ? 
       Sahabat………, Semua orang di dunia ini penting dan berharga. Buka mata kita, pikiran kita, hati kita.  kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca semua peristiwa itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “HAL YANG PALING PENTING DI DUNIA INI BUKAN BERTANYA TERUS  SIAPA KITA ?  tetapi APA KARYA YANG SUDAH KITA CIPTA DAN APA YANG TELAH KITA LAKUKAN UNTUK SAUDARA-SAUDARA KITA DAN ORANG LAIN ? ”
       Sahabat….., Ibu adalah orang yang sangat diistimewakan 3 kali dari ayah (Al-Hadits), artinya factor sukses anak-anak kita 75% adalah peran ibu, dengan bimbingannya, kasih sayangnya, perhatiannya dan yang terpenting adalah do’a dan tangis sang ibu untuk kesuksesan anak-anaknya.
Sahabat ,  sebelum kita mampu mempersembahkan  yang terbaik di sisi Allah, mari kita belajar meng-ABADIKAN YANG TERSISA, sedikit dan mungkin tak terlalu berarti apa yang ada ditangan kita, tapi bisa jadi menjadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang ada dalam genggaman kekuasaan kita PASTI LENYAP dan dan sekecil apapun  yang telah kita ukir di Jalan Allah PASTI akan KEKAL ABADI  . http://www.rumah-yatim-indonesia.org
GA
Read More

Senin, 12 Desember 2011

Hikmah Berbakti Pada Ibu Bapak

  Selain seorang nabi, Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar.

Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu. Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman. Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya. “Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman keheranan. “Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan. “Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi.

Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan. Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit. “Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata.

Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu. “Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut. “Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.” “Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?” “Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan.

Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.” “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin heran. “Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Read More

Jumat, 02 Desember 2011

Kesalahan Mengenalkan Uang pada Anak

 Sah-sah saja untuk mengenalkan anak pada nilai uang. Namun meski niatnya baik, seringkali Anda melakukan berbagai kesalahan ketika mengajarkan anak tentang uang. Bila hal ini tidak juga Anda sadari, bisa-bisa anak pun tak akan mendapat pesan yang ingin Anda sampaikan. Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan orangtua ketika mengenalkan anak tentang nilai uang:

1. Memberikan contoh yang salah.
Mungkin kesalahan ini paling tak disadari ketika melakukannya. Anda mengajarkan kepada anak Anda untuk berhemat dan tidak membelanjakan uang untuk membeli barang yang tak dibutuhkan. Sehingga seringkali Anda melarang anak-anak untuk membeli mainan yang sangat diinginkannya di mall, dengan dalih mereka tidak membutuhkannya. Namun ternyata Anda sendiri asyik belanja-belanja baju, DVD, majalah, atau apa pun yang Anda inginkan. Seharusnya sebagai orang tua, Anda mencontohkan hal tentang pengelolaan uang yang benar tak hanya sebatas ucapan belaka.

"Larangan tanpa contoh yang jelas dari orang tua membuat anak menjadi bingung, karena hal ini bertentangan. Lebih baik jelaskan dengan memberikan contoh yang tepat," ungkap Eileen Gallo, PhD, penulis Silver Spoon Kids: How Successful Parents Raise Responsible Children.

2. Sulit membedakan kebutuhan dan keinginan.
Tak ada salahnya jika membeli sesuatu yang memang sangat dibutuhkan. Namun, hal ini berbeda dengan benda yang kita inginkan. Ketika orangtua sulit membedakan mana kebutuhan dan keinginan, maka anak juga tak akan mampu membedakan keduanya. Misalnya, sepatu keluaran desainer yang menjadi favorit Anda sedang didiskon separuh harga. Anda pun "menyerah" dan membelinya. Kekalahan Anda yang akhirnya membuat Anda membeli sepatu tersebut membuat anak Anda tidak akan belajar bagaimana menolak simbol status baru seperti diskon.

"Anak-anak juga perlu belajar bahwa membeli barang yang tak dibutuhkan -meski didiskon- juga sebenarnya juga merupakan pemborosan. Karena sebenarnya uang itu bisa digunakan untuk membeli kebutuhan lainnya," tukas Paul Richard, direktur eksekutif Institute of Consumer Financial Education di San Diego.

3. Selalu menyelamatkan anak dari kesalahan.
Ketika belajar mengelola uang, anak-anak pasti sering melakukan kesalahan. Misalnya, ketika diberi uang jajan untuk seminggu, biasanya mereka sulit mengelolanya sehingga belum sampai seminggu uangnya sudah habis. Tak jarang Anda merasa kasihan dengan anak-anak, karena mereka tidak bisa membeli jajan lagi karena uangnya habis. Rasa kasihan ini membuat Anda cenderung menyelamatkannya dari kesalahan, sehingga anak tak belajar dari kesalahannya. Sebaiknya, biarkan anak merasakan susahnya tak bisa jajan karena tak ada lagi uang yang dimilikinya.

"Jika Anda selalu menyelamatkan anak ketika mereka tidak mengelola uang dengan baik, mereka tidak akan belajar tentang cara mengelola uang dan mereka tidak akan merasakan akibat dari kesalahan yang dibuatnya. Hal ini akan menjadi pelajaran penting tentang hidup sesuai kemampuan mereka," ungkap Ann Douglas, penulis buku Family Finace: The Essential Guide for Parents.

4. Menghargai segala sesuatunya dengan uang.
Pernahkan Anda mengganjar segala sesuatu yang dilakukan anak-anak dengan uang? Jika ya, berhentilah melakukannya. Jangan pernah memberinya imbalan uang untuk segala sesuatu yang memang harus dilakukannya, misalnya membuat PR. Jangan memberinya upah berupa sejumlah uang ketika ia berhasil mendapatkan nilai yang bagus di kelas, atau setelah membantu Anda melakukan pekerjaan rumah. Jika Anda melakukannya, Anda akan gagal memberikan motivasi yang benar untuk bekerja keras dan belajar maksimal di sekolah. Selain itu, yang diterima anak bukanlah kepuasan yang datang dengan melakukan hal yang terbaik untuk mencapai tujuan, tapi untuk mendapatkan uang yang banyak dari Anda.

5. Menggunakan uang sebagai pengganti waktu dan perhatian.
Bekerja seharian untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga memang umum dilakukan oleh pria dan wanita karier. Namun, hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam kehidupan rumah tangga. Bagi Anda yang sibuk, seringkali anak tak mendapat perhatian yang cukup. Untuk mengatasi hal ini, biasanya Anda akan memberikan sejumlah uang dan membiarkan mereka memilih semua hal yang mereka inginkan agar mereka bahagia dan tak merengek meminta perhatian Anda.

Bagi Anda, inilah cara paling praktis untuk menunjukkan rasa peduli, dan sebagai pengganti kebersamaan dengan keluarga. Namun ini salah. Sadarkah Anda bahwa tak ada satu pun di dunia ini -bahkan uang sekalipun- yang lebih besar dan berharga untuk anak Anda dibandingkan dengan cinta dan perhatian Anda?
Read More

Mendidik Anak Juga Tanggung Jawab Seorang Ayah

Kesibukan mencari nafkah, kadang mengabaikan kedekatan ayah dengan anak.
Ini kisah nyata. Seorang ibu muda tidak berdaya menghadapi ketiga putranya. Si sulung berusia enam tahun, sedang kedua adiknya masih balita. Si ibu sangat kewalahan menghadapi si sulung yang tidak mau berbagi apapun kepada adiknya.
Meski sebentar saja, si sulung akan merebut mainan yang dipegang sang adik. Akibatnya, terjadi saling tarik dan dorong memperebutkan mainan. Rumah jadi berantakan dan tangisan sang adik yang kalah berebut jadi rutinitas keseharian.
Sang ibu ingin mengubah sikap buruk anak sulungnya. Ia memberi nasihat, bahkan hukuman. Tapi tak satupun cara yang ia terapkan berhasil. Keadaan diperparah dengan sikap egois ayah yang tidak mau membantu istrinya menangani si sulung.
Setelah diamati, ternyata akar dari masalah yang membelit keluarga itu sumbernya bukan dari si sulung. Sang anak adalah efek dari inti masalah. Sedang masalah sesungguhnya berasal dari sang ayah.
Lho, kok bisa? Bukankah sang ayah bekerja seharian di luar rumah, tentu nyaris tak pernah bertemu dengan keluarga?
Nah, di situlah pangkal dari semua masalah keluarga muda yang secara sepintas nampak bahagia karena semua kebutuhan materi sudah tercukupi. Lalu apa yang kurang?
Karena kesibukan sang ayah bekerja, bahkan terkesan workaholic, membuatnya jarang berkomunikasi dengan keluarga. Sang ayah terkesan menghindar dari segala hal yang ‘berbau’ rumah. Ia menghindar bila sang anak ingin bermain dengannya. Ia merasa asing dengan keluarganya sendiri karena ia punya dunia sendiri. Hand phone, komputer dan urusan kerjanya, itulah dunianya.
Anak adalah peniru ulung. Sikap egois sang ayah ternyata ditiru putra sulungnya. Setelah melalui penyadaran yang cukup melelahkan pada sang ayah, akhirnya ia mau mengubah sikap terhadap keluarganya. Dampaknya luar biasa. Perubahan sikap sang ayah juga berdampak kepada si sulung. Ternyata tidak terlalu lama sikap tidak mau berbagi si sulung sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Figur Ayah
Penting, setiap anak merasakan sosok figur ayah hadir di hati mereka. Mereka rindu belaian tangan kekar seorang ayah, mereka rindu suara tegas ayah, mereka butuh figur seorang ayah untuk jadi contoh teladan dalam bersikap.
Bila semua itu tak terpenuhi, bisa dipahami bila di kemudian hari anak-anak ini menjadi pribadi yang bermasalah. Bila keadaan bertambah parah, baru kita tersadar ada yang salah dari anak kita. Fatalnya, sebagian orangtua jarang mau mengakui kesalahan itu, selalu anak yang disalahkan. Padahal, sesungguhnya orangtualah yang membuat mereka menjadi pribadi yang bermasalah.
Ayah Pendidik
Tidak bisa disangkal bahwa ayah adalah tulang punggung keluarga. Ia curahkan seluruh kemampuan dan waktunya untuk mencari nafkah agar tercukupi kebutuhan keluarganya. Sedang istri di rumah mengurus rumah, menjaga dan merawat serta mendidik putra-putrinya.
Tetapi belajar dari pengalaman keluarga di atas, ternyata peran ayah tidak berhenti hanya mencari nafkah. Kalau mau dirinci sebenarnya peran ayah sangat besar, bahkan sama dengan peran istri, khususnya dalam pendidikan keluarga. Jadi, suatu kesalahan bila beban pendidikan anak hanya diserahkan sepenuhnya kepada sang istri.
Mencari nafkah memang tugas berat bagi suami. Apalagi, jika suami juga berdakwah membina umat yang sepertinya tidak ada putusnya. Tanpa mengurangi tanggung jawab tersebut, mendidik keluarga harusnya juga dimasukan dalam agenda pembinaan. Jangan sampai sukses di luar, tapi istri dan anak terabaikan. Bukankah sebagai pemimpin keluarga dituntut untuk menyelematkan keluarga dari api neraka?
“Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim [66]: 6).
Dalam suatu riwayat dikisahkan, seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Dia bertanya, ”Hai Rasulullah, apakah hak-hak bagi anakku terhadap diriku?” Rasulullah SAW menjawab: ”Hendaklah engkau memberinya nama yang bagus, mendidiknya dengan baik, dan menempatkannya di tempat yang baik.”
Ayah Penuh Cinta
Betapa sering kita abaikan anak-anak yang dititipkan pada kita. Padahal, anak adalah amanah sekaligus anugerah terindah dari-Nya. Kita sering memposisikan anak sebagai milik kita sehingga kita bebas memperlakukan mereka.
Kata ‘mendidik dengan baik’ dari Hadits di atas mengandung pengertian perlakuan yang baik. Bukankah anak belajar dari perilaku kita? Bukankah anak akan belajar membenci bila kita sering mencelanya. Begitupun ia akan belajar mencintai bila kita mencintai dan menyayanginya.
Terkait dengan menyayangi anak, Rasulullah SAW berpesan: ”Barangsiapa mencium anaknya, Allah akan menuliskan untuknya satu kebajikan. Barangsiapa menggembirakan anaknya Allah akan menggembirakannya di hari kiamat kelak. Barangsiapa mengajarkan al-Qur’an kepada anaknya, maka kedua ibu bapaknya akan dipanggil untuk diberi dua pasang pakaian yang indah dan dari wajah mereka akan tampak bahwa mereka adalah penghuni surga.”
Siapa yang tidak tahu bahwa tugas kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah sangat berat. Jadwal hidupnya sangat padat untuk berdakwah dan mengurus umat, tapi beliau masih tetap memperhatikan keluarganya. Cucu beliau, Hasan dan Husein tidak takut menaiki punggungnya untuk bermain. Rasulullah SAW juga tidak canggung bermain dengan anak-anak. Beliau biasa mencium anak perempuannya ketika masyarakat Quraisy sangat membenci memiliki anak perempuan.
Begitupun ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, sering memberi pesan kepada putranya Hasan sebagai wujud cinta dan perhatiannya pada putranya. Simaklah pesannya:
“…dan kudapati engkau sebagai bagian diriku, malahan kudapati engkau sebagai keseluruhan diriku, sehingga kalau ada sesuatu menimpamu, maka hal itu pun menimpa diriku. Seandainya kematian datang kepadamu, maka hal itu juga datang kepadaku. Apa saja yang engkau derita juga menjadikan diriku menderita.”
Jikalau ikatan perasaan yang amat agung itu merupakan perasaan para ayah yang dicurahkan kepada anaknya, maka dengan sendirinya akan timbul rasa hormat dan bakti anak terhadap sang ayah. Ikatan agung inilah yang akhirnya melahirkan generasi-generasi rabbani, generasi terbaik sepanjang masa yang siap menyongsong kehidupan penuh rahmah.
Tidak disangsikan lagi lahirnya pahlawan dan ulama sekaliber Hasan, Husein, ‘Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Ja’far, Fadhl bin Abbas, dan ‘Abdullah bin Abbas adalah karena banyaknya manusia-manusia yang berkualitas pada saat itu. Sehingga zaman itu disebut sebagai khairul-qurun, sebaik-baik masa.
Kalau kita ingin anak kita seperti generasi khairul-qurun, maka peran ayah dalam pendidikan keluarga tidak bisa diabaikan. Wallahua’lam bish-shawab.
Read More

Orang Tua Kaya Dengan Seorang Anak Yang Bijak


Tidak semua yang kita miliki hanya bisa diukur dari kasat mata dan nilai duniawinya semata, banyak hal dalam hidup ini yang lebih bermakna. Bila Anda sudah merasa memiliki harta benda banyak coba tanyakan pada nurani Anda, sudah bahagiakah Anda dengan harta tersebut?

Dalam tulisan hikmah berikut saya mengajak para sahabat sekalian untuk bisa lebih dalam memaknai arti hakikat hidup yang sesungguhnya, harta bukan tujuan melainkan hanya alat dan media, mari kita simak cerita ringkas berikut:


Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung, dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.
Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.
‘ Bagaimana perjalanan kali ini?’
‘ Wah, sangat luar biasa Ayah’
‘ Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin’ kata ayahnya.
‘ Oh iya’ kata anaknya
‘ Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?’ tanya ayahnya.
Kemudian si anak menjawab.
‘ saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.
Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.
Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.
Kita memiliki patio sampai ke! halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.
Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.
Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.
Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.
Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.’
Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.
Kemudian sang anak menambahkan ‘ Terimakasih Ayah, telah menunjukan kepada saya betapa miskinnya kita.’
Kebersamaan, persaudaraan dan tolong menulong sebuah nilai dalam masyarakat yang tidak bisa dihargai dengan uang semata
Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang. Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih.
Read More

Kisah Tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.
“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .
“Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.
“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”
Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.
“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.
“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.
Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Si tukang cukur terbengong.....

Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”
"Jika Anda berpikir bahwa TUHAN ITU ADA, sampaikan cerita ini kepada orang lain. Semoga kita selalu mendapat kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Amien.."
Read More